Saat ini aku bekerja manager di sebuah perusahaan di kota Semarang,
disamping pekerjaan kantorean akau juga membuka usaha di rumah yaitu
klontongan ya sambil nyelam minum air ada tambahan sedikit aku kumpulin,
saat ini aku sudah menikah tapi istriku tau akan hobiku tentang
hasratsexku yang agak nyeleweng yaitu suka mencari cewek daun muda
supaya aku tetap awet muda hehe.
Oya para pecinta cerita sex belum perkenalan namaku Eros
umurku 37 tahun , aku selalu saja mendapat koneksi dari rekan kerjaku
karena memang pekerjaanku juga menunjang untuk hal itu, tapi yang
disayangkan adalah istriku mengetahui kalau aku mempunyai banyak
simpanan suatu saat dia meninggalkanku tanpa sepengetahuanku, tapi cuek
saja malah aku bisa melampiaskan hasrat sexku lebih leluasa.
Dulu aku sempat punya pembantu tapi karena pembantu ingin menikah
didesanya jadi aku terpaksa mencari yang baru lagi, jujur saja aku
kuwalahan untuk mengurus pekerjaan rumah dan rasanya ingin mencari obat
stress, aku mendatangi sebuah jasa penyalur PRT dan aku menemukan calon
yang menarik perhatianku namanya Wisti aku cari infonya dia masih
berumur 17 tahun.
Wajahnya cukup cantik dengan lesung pipinya yang bikin manis,
bibirnya tipis dengan mata yang bersayu sayu, seandainya dia mau
berdandan pastinya lebih cantik mungkin saja dia jadi artis ibu kota
karena sudah mempunyai modal wajah yang cantik, aku lihat bodynya juga
cukup padat walupun dia mungil langsung saja aku menerima dia sebagai
PRT di rumahku.
Setelah seminggu di rumahku dia memang orangnya gesit dalam mengurus
rumah, kadang aku juga menginttip kegiatan dia sedang memakai kaos yang
ketat membuat hasrat sexku muncul, dengan memakai rok mininya aku
mendekati dia dan iseng dari belakang aku cubit pahanya yang putih itu,
Wisti sedikit kaget namun setelah melihat wajahku dia hanya menunduk
kepalanya dengan manja.
Dan saat aku pulang dari kantor aku kembali melihat dia sedang
mengepel antaia dengan menggunakan pakain daster yang tipis sambil
nungging, aku pulang disuguhkan pemandangan yang membuat rudalku
berdiri, pantatnya bergoyang ke kanan kekiri Nampak garis celana
dalamnya yang membayang di dasternya tak lama kemudian aku sengaja
menepuk bokongnya sambil berkata:
“itu ngepel atau sedang gotyang dangdut Wisti, kok aku melihat pantat kamu jadi terangsang sekali
Wisti hanya sedikit senyum dan tertawa lirih mendengar komentarku dan
kembali meneruskan pekerjaannya, ehh tak taunya malah dia semakin
kencang menggoyangkan pantatnya.
Karena aku gemas dengan apa yang dilakukan Wisti aku pegang bokongnya
untuk menahan goyangannya, aku melihat bokong yang sangat seksi sekali
aku mainkan kedua jempolku diantara selakangannya gadis itu, kemudia dia
menghentikan gerakannya dan mengehentikan tawanya, tangan kananku
mengelus paha sebelah kanannya sampai masuk kedalam dasternya.
“Maaf ndoro jangan bergitu, cegah Wisti”
“nggak apa pa kok sayang , gak usah takut”
“Wisit tetap bertahan , jangan Ndoroo jangan sekarang..!!
Perkataan Wsiti semakin membuat aku nafsu, dengan terburu buru Wisti
berdiri dan bergegas membereskan ember dan kain lapnya kemudian dia
menuju ke dapur.
Ya udah aku biarkan Wisti menyelesaikan pekerjaannya yang ada di
dapur, malam harinya pukul 7 malam aku meminta bantuan Wisti untuk
memijat punggungku yang pegal karena seharian rutinitasku di kantor
memang banyak pekerjaan, agar tubuhku fit kembali untuk hari besok tak
ada salahnya aku member pengalaman baru kepada gadis Wisti.
Aku memanggil Wisti untuk menuju kekamarku dan membawa minyak gosok ,
tak lama dia dating masih memakai daster yang tipisnya, aku suruh untuk
duduk disampingku.
Langsung saja jemarinya menyentuh punggungku yang sudah diolesi dengan minyak gosok, sambil aku ajak ngorol dia.
“Wisti kamu ndak sudah punya pacar belum” kataku
“hmmm dengan jawaban yang lama dia berkata kalau disini belum ndoro”
“lhhooo kok kalau disini , berarti diluar sana Wisti punya ya???
“dengan senyumannya yang khas itu dia menjawab “ dulu waktu didesa aku punya pacar tapi sudah aku putus”
“lha emang kenapa ???
“habis dia mau enaknya sendiri , dia mintanya ngajak gituan terus
tapi kalau diajak menikah gak mau, ya aku putisin dia aja Ndooro.”
Dengan rasa penasaran aku langsung membalikkna badanku supaya dadaku
yang gantian diurutnya, sambil menatap wajahnya yang manis itu, “gituan
giman maksutnya??Seolah olah aku membodohi dia, apakah akamu tidak
suka??
“ya itu ndoroo maksutnya ngajak kelon bareng tidur berdua telanjang, ya begituan ndorro”
Muka Wisti memerah sedikit malu.
“lha kamu mau aja diajak gituan, tanyaku
“ya maksutnya begini ndorrro kalau hanya menghisap burungnya saja
Wisti juga gak apa apa , tapi kalau mau yang lainnya Wisti aku tolak.”
Dengan perkataan Wisti tadi spontan saja burungku langsung tegang
dibuatnya. Aku juga tertawa mendengar pekataan yang polos tersebut, lha
emang gak belepotan hehe.
“ah enggak juga ndoro yang penting Wisti masih perawan”
Lha kenapa kalau kamu juga suka kok putus pacarannya,
“ya karena lama kelamaan ngeselin sih, soalnya kalau diajak macem
macaem mau, tapi dia malah maen pada wanita lainnya , untung saja Wisti
hanya kasih emutan saja gak lebih jadi aku masih perawan Ndorooo”
Aku pancing dia dengan candaanku, “lha emangnya kalau gituan aja apa
gak pengen coba yang beneran ?? godaku sambil melihat wajahnya yang
kembali memerah.
“Ehh katanya kalau gituan sakit ya dan bisa hamil?? Tanya Wisti dengan polosnya.
Kini tubuh Wisti agak membungkuk sambil menggosokkan minyak keperutku
, saat itu aku melihat gundukan payudaranya yang tidak ditopangi BH
sungguh masih alami dan bersih putingnya dan susunya sangat montok
sekali payudaranya Wisti, tanganku sambil mengelus ngelus pahanya yang
mengankang , aku menggodanya .
“Jika kalau sama Ndoro Wisti apakah sudi ngasih beneran atau hanya diemut saja”suasan semakin memanas saat itu.
Aku lihat pipi Wisit semakin memerah agak malu mungkin, “tapi aku
disini Cuma pembantu Ndoroo mask iya sih pembantu? Kan disini aku Cuma
pelayan rumah tangga.
“lha itu juga kan namanya melayani juga Wisti, betul kan?? Aku lihat dia sedikit tersenyum manis.
“nanti kalau aku hamil giman ndoro???
Jangan taku Wisti nanti kalau hamil ndooro yang tanggung jawab , lagian
ini baru pertama kalinya nggak bakal hamil, meskipun dia sedikit malu
dan ragu , Wsiti menurut perkataanku dan menyikap dasternya diangkatnya.
Kemudian Wsiti meletakkna pantatnya diatas pahaku, dengan rasa yang
agak tegang aku mengelus ngelus rambutnya untuk membuat dia tenang,
tangan dia menyikap payudaranya sesat aku melihat tubuhnya yang nyaris
telanjang , sementar wajah Wisti menoleh menyamping seakan akan membuang
wajahnya kekanan, karena tidak sabar aku tarik pinggang Wisti dan aku
rebahkan disampingku.
Mungkin seumur hidupnya baru merasakan kasur yang super empuk ,
langsung saja kau sergap dari atas aku ciumi bibirnya yang tersenyum
malu, aku memulai permainan panas ini dengan menggerayangi seluruh
tubuhnya meremas remas kedua payudaranya yang kenyal, putingnya yang
tegak aku mainkan sampai berwarna merah muda.
Payudaranya montok cukup tanganku untuk memeras terus, tidak
menggantung payudaranya sungguh kencang gadis desa ini sungguh ranum
siap untuk dinikmati.
Ouuhhhh mmmmmMMmmm ndorooooo ehmmmmmm burungnya ndoro mau aku hisep gak ??”kata Wsiti dengan nafas yang cepat”
“kalau mau ngemut burungku lepas dulu celana kamu Wisti”
Lalu dia bangkit dan melorotkan celana dalammnya dan gadis desa ini
benar benar telanjang bulat di depan mataku, dengan perlahan wajah Wisti
mendekat diselakanganku meraih kejantananku sambil menata rambutnya
kebelakang, dia gantian melorotkan celana dalamku terlihat wajahnya yang
tepenganga melihat kejantananku. Mungkin ia membayangkan bagaimana
benda berotot sebesar itu dapat masuk di tubuhnya.
Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika Wisti mulai
mengulum kejantananku, memainkan lidahnya dan menghisap dengan mulut
mungilnya sampai pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat
kejantananku cepat gagah.
“Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas(jangan keras-keras)..! Srrrp..!”
Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih payudaranya yang
montok dan meremasinya. Namun aku tak perduli, bahkan tangan kananku
kini mengelus belahan pantat Wisti yang bulat penuh, terus turun sampai
ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang rambutnya. Maklum, masih
perawan.
Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika jemariku
menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup dalam kemaluannya yang masih
perawan.
Merasa kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Wisti mengambil pisau
cukur di atas meja, lalu kembali ke atas ranjang. Tersipu-sipu gadis
perawan itu mengambil bantal berusaha untuk menutupi ketelanjangannya.
Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya berbaring telentang
menekuk lutut dan merenggangkan pahanya, mempertontonkan rambut
kemaluannya yang hanya sedikit.
Tanpa menggunakan foam, langsung kucukur habis rambut di selangkangan
gadis itu, membuat Wisti tergelinjang karena perih tanpa berani
menolak. Kini bibir kemaluan Wisti mulus kemerah-merahan seperti
kemaluan seorang gadis yang belum cukup umur, namun dengan payudara yang
kencang.
Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan yang telanjang
bulat tanpa sehelai benang pun itu. Tersipu-sipu Wisti membuang wajah
dan menutupi payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera kutarik
kedua tangan Wisti ke atas kepalanya, lalu menyibakkan paha gadis itu
yang sudah mengangkang. Pasrah Wisti memejamkan mata menantikan saatnya
mempersembahkan keperawanannya.
Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemariku
mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua
paha mulus Wisti terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung
kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin
memburu.
Perlahan tapi pasti, kejantananku menerobos masuk ke dalam kehangatan
tubuh perawan Wisti. Ketika selaput dara gadis manis itu sedikit
menghalangi, dengan perkasa kudorong terus, sampai ujung kejantananku
menyodok dasar liang kemaluan Wisti.
Ternyata kemaluan gadis ini kecil dan sangat dangkal. Kejantananku
hanya dapat masuk seluruhnya dalam kehangatan keperawanannya bila
didorong cukup kuat sampai menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera
terdesak keluar lagi.
Wisti terpekik sambil tergeliat merasakan pedih menyengat di
selangkangannya saat kurenggutkan keperawanan yang selama ini telah
dijaganya baik-baik. Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal di
kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit.
Air mata gadis itu tak terasa menitik dari sudut mata, mengaburkan
pandangannya. Wisti merintih kesakitan ketika aku mulai bergerak
menikmati kehangatan kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali
benda sebesar itu. Namun rasa sakit dan pedih di selangkangannya
perlahan tertutup oleh sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa.
Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu
tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah dirasakannya.
Kejantananku bagai diremas-remas dalam liang kemaluan Wisti yang begitu
‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong kejantananku sampai masuk
seluruhnya dalam selangkangan gadis itu, membuat Wisti
tergelinjang-gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali dasar
kemaluannya disodok.
“Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..! Ndorooo… Wisti pengen… pih… pipiiis..! Aaa… aahh..!”
Sensasi nikmat luar biasa membuat Wisti dengan cepat terorgasme.
“Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu, baru kamu boleh pipis..!”
Dengan patuh Wisti mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga
berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata
terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian.
“Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii… iik..! Aaa…
aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Wisti tergelinjang-gelinjang di
bawah tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.
Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat
gadis itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu
rapat bergerak mencucup-cucup.
Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik kejantananku keluar dari tubuh Wisti.
“Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis lagi..!”
Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan,
tanda gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya
sudah selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur
nafasnya yang ’senen-kamis’. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah
perawan menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.
Aku menarik pinggang Wisti ke atas, lalu mendorong sebuah bantal
empuk ke bawah pantat Wisti, membuat tubuh telanjang gadis itu agak
melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali
kutindih tubuh montok Wisti, dan kembali kutancapkan kejantananku dalam
liang kemaluan gadis itu.
Dengan posisi pantat terganjal, klentit Wisti yang peka menjadi
sedikit mendongak. Sehingga ketika aku kembali melanjutkan tusukanku,
gadis itu tergelinjang dan terpekik merasakan sensasi yang bahkan lebih
nikmat lagi dari yang barusan.
“Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.
“Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..! Aahh… Aiii… iik..!”
Tubuh Wisti yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan
nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.
“Ooo… ohh..! Ndoroo.., Wisti pengen pipis.. lagiii… iih..!”
“Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”
“Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Wisti nggak kuat… Ndorooo..!”
Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas ranjang empuk.
Pekikan manja Wisti semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya
tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua pahanya
tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku menikmati
tubuh perawannya.
Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas kedua payudara Wisti hingga
tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya remasanku hingga cairan
putih susu menitik keluar dari putingnya yang kecoklatan.
“Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Wisti mau pipiiiiss..!”
Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan mencabut kejantanannya justru disaat Wisti mulai orgasme.
“Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.
“Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak pa-pa kok..!” rengek gadis itu manja.
“Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?” aku terus berpura-pura marah.
Tampak bibir kemaluan Wisti yang gundul kini kemerah-merahan dan bergerak berdenyut.
“Enggak! Enggak kok! Wisti enggak berani Ndoro..!”
Wisti memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih
tubuhnya. Rasanya sebentarlagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
“Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?” kuremas kedua buah dada montok Wisti.
“Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.
“Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman tangannya hingga
payudara gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali
menetes dari putingnya.
“Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”
Wisti menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang
bukannya dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera
merasakan ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya.
Tak ayal lagi, Wisti kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang
kemaluannya ditekan kuat.
“Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..! Ndorooo… ampuuu… uun..!”
Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.
Begitu cepatnya Wisti mencapai puncak membuat aku semakin gemas
menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok
yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat,
meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Wisti.
Sementara genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis
itu yang hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan
puncak.
Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah,
kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari
selangkangannya. Rasanya seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa
membuat Wisti tidak sadar memekik-mekik manja.
Kedua pahanya yang sehari-hari biasanya disilangkan rapat-rapat, kini
terkangkang lebar, sementara liang kemaluannya tanpa dapat
ditahan-tahan berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa
menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah bersimbah keringat.
“Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!” Gemas
kucengkeram kedua buah dada Wisti erat-erat sambil menghentakkan
kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.
Wisti tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar kemaluannya
disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk berulangkali
tersentak naik menahan nikmat.
“Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuuu..
unn..!” Wisti merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan
kegiuran yang tidak kunjung reda.
Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah
selesai. Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya.
Kedua tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya
tersentak terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku,
nafasnya tersengal dan terputus-putus.
Bagian dalam tubuhnya terasa ngilu disodok tanpa henti. Putus asa
Wisti merengek memohon ampun, majikannya bagai tak kenal lelah terus
menggagahi kegadisannya. Bagi gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah
melayani majikannya dengan pasrah.
Menyadari kini Wisti sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik paha
Wisti ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya. Akibatnya
kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit kejantananku yang
terus menghentak keluar masuk.
Wisti berusaha kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin
kurapatkan kedua paha mulusnya. Mata Wisti yang bulat terbeliak dan
berputar-putar, sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’
tanpa ada suara yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar
biasa di selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.
Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya
cengkeraman pangkal paha Wisti, membuat gadis itu terpekik-pekik nikmat
dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya disodok
keras.
“Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram merasakan
kemaluan Wisti yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup
kejantananku.
“Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit… ampuuu… un..!”
Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas
kedua payudara Wisti yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat
dan cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada
tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh
kami, membuat tubuh Wisti melesak dalam empuknya ranjang.
Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat telanjang
dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku semakin hebat
menggeluti gadis itu.
“Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm… aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro.. Wisti… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”
Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi
kemaluan Wisti, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam
tindihanku, namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah
dada Wisti yang halus mulus.
Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan Wisti
yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua
buah dada gadis itu, membuat Wisti tergerinjal antara sakit dan nikmat.
“Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… mmh..!Aaa… aaakh..!”
Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Wisti yang sintal,
membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu
memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Wisti memeluk tubuhku dan
mengelus-elus punggungku.
Masih dengan posisi tersebut aku berfikir untuk menaikkan gaji Wisti 3
x lipatnya , supaya dia betah untuk bekerja dan menemaniku disini
setiap saat , dengan tubuh yang masioh lemas Wisti bergeluntur turun
dari ranjang dan melakukan gerakan melompat lompat, aku bertanya
“ngapaiann kamu Wisti”
“katanya biar tidak hamilharus lompat lompat ndorrooo , giman sih”
Aku tebahak mendengarnya sungguh polosnya gadis ini , melihat cairan
kental yang turun dari selakangannya tanpa ada bulu sehelaipun.
No comments:
Post a Comment